Taaruf Menjadi Solusi Bahaya Pergaulan Bebas

Keadaan seorang perempuan berzina ini bisa dikategorikan balasan pengaruh dari pergaulan bebas sehingga beliau melaksanakan perbuatan yang melanggar batas-batas adab mirip melaksanakan seks non marital (di luar nikah).

Berdasarkan akad ulama, anak yang terlahir berdasarkan hasil dari relasi sexual non marital, maka status anak tersebut nantinya dinasabkan selaku anak ibu dan tidak dinasabkan terhadap bapak biologisnya.

Hubungan dengan bapak biologisnya terputus, tergolong secara aturan kewarisannya. Ia hanya berhak mewarisi dari ibunya dan sebaliknya, ibunya berhak mewarisinya.

Kemudian yang berhak menjadi wali nikah ketika ia menikah nantinya adalah wali hakim, karena beliau tidak dapat dinasabkan terhadap bapak biologisnya.

Apabila terjadi sumpah li’an antara suami dengan istri

Pengertian sumpah liàn yakni sumpah yang dilakukan oleh suami dan istri dengan nama Allah yang disebabkan suami menuduh istrinya berzina atau tidak mengakui anak yang dikandung atau dilahirkan oleh istrinya selaku anak kandungnya dimana suami tidak memiliki saksi atas tuduhan tersebut, sedangkan istri menolak tuduhan tersebut.

Biasanya hal ini terjadi alasannya suami berprasangka atau menuduh bahwa istrinya selama pernikahannya masih berjalan dengannya sudah berselingkuh dan melakukan tindakan zina dengan laki-laki lain sehingga menimbulkan kehamilan.

Atau mampu saja alasannya suami benar-benar mengetahui bahwa istrinya telah berselingkuh dan berzina dengan laki-laki lain akan namun beliau tidak memiliki bukti maupun saksi, sedangkan istri menyangkal tuduhan bahwa kehamilannya diakibatkan perzinahan tersebut.

Maka dalam hal ini, suami-istri tersebut harus melakukan sumpah li`an, yang mana suami mengucapkan sumpah sebanyak empat kali untuk mengukuhkan tuduhannya dan istri mengucapkan sumpah sebanyak empat kali untuk menyangkal tuduhan suami, diikuti keduanya mengucapkan sumpah kelima yang isinya jika beliau berbohong maka laknat Allah bersamanya. Selanjutnya suami istri harus berpisah selama-lamanya dan dihentikan rujuk maupun menikah kembali.

Status dari anak yang dilahirkan pada kondisi ini yakni dinasabkan pada ibunya alasannya adalah suami mengucapkan sumpah li`an dan tidak mengakui anak tersebut sebagai anaknya. Sehingga hak kewarisan cuma timbul antara ibu dan anak tersebut.

Mengenai wali nikah anak wanita tersebut nantinya yakni wali hakim

Apabila istri melakukan kekerabatan sexual dengan pria lain dikala ijab kabul masih berlangsung Adalah suatu kondisi dimana istri melaksanakan hubungan sexual dengan pria lain, baik dikenali maupun tidak dikenali suaminya sampai mengakibatkan dia hamil.

Berdasarkan hadist otentik riwayat Imam al-Bukhâri, no. 6749 dan Muslim, 4/171 dari Aisyah Radhiyallahu anhuma dalam hadits yang panjang disebutkan bahwa :“anak itu haknya (pria) yang memiliki kawasan tidur dan bagi yang berzina tidak mempunyai hak apapun (atas anak tersebut).

Kejadian ini berlawanan dengan sumpah li`an sebab dalam hal ini suami mungkin saja tidak mengetahuinya, atau bisa saja suami mengenali namun dia enggan menyelenggarakan sumpah li`an. Sehingga dalam hal ini, status anak yang lahir nantinya dinasabkan kepada suami yang sah, bukan terhadap laki-laki selingkuhan istri.

Sehingga yang berhak menjadi wali nikah anak perempuan tersebut nantinya yaitu ayahnya (suami dari ibunya). Kemudian alasannya adalah masih dinasabkan kepada ayahnya maka anak wanita tersebut berhak mewaris dari ayah ibunya dan begitu juga sebaliknya.

Apabila seorang perempuan berafiliasi sexual di luar nikah, kemudian hamil dan dinikahi oleh lelaki yang menghamilinya.
Adalah suatu keadaan dimana seorang perempuan yang belum menikah, ia bekerjasama sexual dengan pria sampai ia hamil. Kasus ini hampir sama dengan point nomor 1, perbedaannya dalam masalah ini laki-laki yang berhubungan sexual dengannya mau bertanggungjawab menikahinya.

Dalam masalah ini, status anak yang nantinya lahir dinasabkan kepada ibunya alasannya dalam kasus ini tidak mampu dimasukkan ke dalam keumuman hadist mirip no 3, karena suami istri tersebut menikah sesudah istri hamil duluan, bukan sebelum hamil.

Meskipun demikian laki-laki tersebut tetap dapat dikatakan selaku bapak biologis anak tersebut, akan tetapi tidak mampu dinasabkan kepada bapak biologisnya.

Oleh kesannya, yang berhak menjadi wali nikah dikala anak wanita tersebut menikah adalah wali hakim, sebab statusnya cuma sebagai anak ibu sekalipun bapak biologisnya menikahi ibunya.

Hanya saja yang membedakan dengan kriteria nomor 1 ialah anak wanita tersebut secara hukum tertulis, dalam akta kelahirannya nantinya dicantumkan nama ayah dan ibu. Hal ini menurut Kompilasi hukum Islam yang menyatakan secara eksplisit selaku berikut :

Apabila anak terlahir dari pernikahan yang fasid atau batil

Sebelum kita bahas lebih lanjut tentang bahayanya pergaulan bebas hingga menyebabkan kehamilan diluar nikah ini, saya mau mengingatkan kalau solusi terbaik adalah melakukan ta’aruf agar terhindar dari zina.

Dilansir dari BDG Magz yang dimaksud ijab kabul yang fasid atau batil yaitu ijab kabul yang diharamkan syariat atau salah satu rukun nikah tidak terpenuhi sehingga menyebabkan akad nikah tidak sah, contohnya : menikah dengan mahram, saudara sepersusuan, istri bapak atau anak atau mertua atau dengan anak tiri yang ibunya sudah digauli, nikah mutàh, nikah dengan lebih dari empat perempuan, nikah tanpa wali, dan sebagainya.

Berbeda dengan kasus anak yang terlahir di luar akad nikah yang sah secara aturan, dalam artian ini adalah anak hasil akad nikah siri / di bawah tangan seorang wanita dan seorang pria yang keduanya tidak terikat perkawinan yang sah dengan perempuan/laki-laki lain.

Ayah biologis mampu mengajukan permohonan asal seruan anak ke paras pengadilan agama untuk mendapatkan penetapan pengesahan asal-ajakan anak tersebut. yang dapat mengakibatkan balasan hukum berdasarkan penetapan tersebut mirip kekerabatan nasab, perwalian dan kewarisan. Sehingga sertifikat kelahiran anak tersebut nantinya dapat dicantumkan nama ayah dan ibunya.